Jumat, 04 Februari 2011

Subcultures & Consumen Behavior

Budaya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen karena individu mengikuti sejumlah keyakinan, nilai, dan kebiasaan dalam masyarakat agar tidak melanggar norma yang berlaku dan menghindari hal-hal tabu. Pemasar melihat budaya dalam masyarakat dapat dibagi menjadi beberapa segmen yang disebut sebagai subcultures (sub-budaya). Apakah yang dimaksud sebagai subculture? Berikut pembahasan lebih lanjut.

A. PENGERTIAN

Kebudayaan dalam masyarakat dibentuk oleh dua unsur yang berbeda tetapi saling melengkapi yaitu:
• Keyakinan, nilai, dan kebiasaan yang unik dari kelompok subculture tertentu.
• Budaya pokok dalam masyarakat tanpa memperhatikan keunikan dari subculture yang ada.
Contoh: Di Indonesia, terdapat berbagai bahasa daerah, tetapi ada bahasa yang utama yaitu Bahasa Indonesia. Begitu juga, makanan pokok di Indonesia adalah nasi walaupun terdapat daerah-daerah dengan makanan pokok berupa jagung, sagu, dan lainnya.
Nah! Penting untuk memperhatikan subculture karena keunikan tersebut turut mempengaruhi perilaku konsumen dalam membuat keputusan-keputusan pembelian. Subculture mewakili keyakinan, nilai, dan kebiasaan yang membedakan antar kelompok dalam suatu masyarakat. Subculture dapat diartikan sebagai kelompok budaya yang berbeda dan diidentifikasikan menjadi segmen-segmen dalam masyarakat yang lebih besar dan kompleks. Subcultures bersifat dinamis dan saling mempengaruhi satu sama lain. Berikut pembahasan kategori-kategori subculture pada umumnya.








B. KATEGORI UMUM

1. Nationality Subcultures

Kebangsaaan menentukan nilai-nilai yang dianut dan produk atau jasa yang akan dibeli oleh konsumen. Pada umumnya, keputusan pembelian berdasar pada produk atau jasa yang sering dipakai di tanah kelahiran maupun yang familiar dengan negara kelahiran konsumen.
Contoh: Masakan Padang yang khas Indonesia lebih diminati dan memberikan rasa "pulang ke rumah" bagi mahasiswa/i Indonesia yang tinggal di luar negeri.
Untuk lebih memahami nationality subcultures, berikut disajikan pembahasan mendalam terhadap Hispanic subcultures.

• Hispanic subcultures

Negara Amerika tidak hanya multi budaya tetapi juga multi ras yang salah satunya adalah Hispanic dengan jumlah mencapai 14% yang diyakini akan terus bertambah hingga mencapai 24% pada tahun 2050 dari keseluruhan populasi penduduk Amerika. Oleh karena itu, pasar ini dianggap potensial dan akan digarap dalam segmentasi pasar tersendiri.
Dalam perilaku konsumsi, ras Hispanic memiliki kecenderungan membeli produk dari brand terkenal dan terjamin kualitasnya, menyukai produk atau jasa yang digunakan oleh orangtua, lebih memilih produk-produk makanan segar ketimbang yang dibekukan, membeli produk yang dipromosikan oleh toko dengan ras yang sama, dan cenderung melakukan tranksasi di toko yang berskala kecil, walaupun kenyataannya harga di supermarket lebih murah.
Dengan semakin banyaknya ras Hispanic yang menggunakan produk atau jasa seperti ras mayoritas sebagai hasil dari proses akulturasi, hampir semua website yang ada di Amerika menyediakan pilihan Bahasa Spanyol (bahasa utama ras Hispanic) karena melihat besarnya peluang memasuki pasar ras Hispanic melalui Bahasa Ibu-nya.
Contoh: Produk boneka barbie yang pada website Spanyolnya ditulis Barbielatina.com membidik kaum muda Ras hispanik yang sadar akan mode.
Segmentasi yang berdasar pada tingkat kedekatan identifikasi produk atau jasa dengan konsumen akan meningkatkan brand loyal terhadap produk atau jasa tersebut. Melalui perantara bahasa dan informasi produk yang berhubungan dengan budaya Hispanic akan membawa unsur kedekatan produk dengan konsumen yang dapat meningkatkan pembelian produk atau jasa tertentu.
Salah satu pendekatan dalam pemasaran produk atau jasa bagi ras Hispanic adalah dengan mengidentifikasi bahasa. Begitu juga dengan budaya lain, bahasa yang umum dipakai oleh tiap rentang umur (remaja, dewasa maupun orangtua) lebih menarik konsumen dengan budaya yang sama. Misal: bahasa jargon atau slank lebih menarik perhatian bila digunakan sebagai bahasa sampingan disamping Bahasa Indonesia pada siaran radio remaja, sedangkan Bahasa Indonesia baku lebih sesuai untuk siaran radio Elshinta yang menghadirkan berita aktual dan faktual.



2. Religious Subcultures

Individu yang menjadi anggota dari kelompok agama tertentu cenderung membuat keputusan pembelian yang berhubungan dengan identitas keagamaan mereka seperti produk atau jasa yang baik secara simbolik maupun ritual berhubungan dengan hari-hari besar keagamaan.
Contoh:
Banyak diproduksinya hadiah-hadiah menjelang Natal karena Natal identik dengan pemberian hadiah.
Sama halnya dengan produk jenis makanan, juga harus memperhatikan segmen ini karena dapat menentukan keputusan pembelian.
Contoh:
Umat Muslim akan cenderung membeli makanan kaleng dengan tulisan halal. Begitu juga dengan konsumen yang vegetarian akan cenderung membeli indomie vegan ketimbang indomie rasa ayam bawang.





3. Geographic and Regional Subcultures

Subcultures ini disegmentasi berdasarkan wilayah tempat sekelompok masyarakat tinggal sehingga membentuk kebudayaan lokal setempat yang berjalan dari masa kemasa, tanpa dikomando oleh satu atau dua individu tetapi lebih karena kebiasaan yang terus menerus berlangsung dalam satu wilayah sehingga menjadi ciri khas dari wilayah tersebut.
Contoh:
Di NTT, masyarakat lebih memilih untuk menjadikan umbi-umbian sebagai makanan pokok ketimbang nasi. Hal tersebut dikarenakan harga beras di wilayah tersebut sangat mahal dan umbi-umbian banyak terdapat di NTT serta daya beli masyarakat yang rendah menyebabkan pola konsumsi beras sebagai budaya Indonesia pun menurun. Iklim dan cuaca juga berpengaruh dalam perilaku konsumen di wilayah NTT yang cenderung panas sehingga masyarakat tidak menggunakan sweater. Dapat dipastikan penjualan sweater akan menemukan kendala ketika dipasarkan di NTT.



4. Racial Subcultures

Pembagian racial subcultures di bawah ini lebih mengarah pada negara Amerika yang memiliki perbedaan gaya hidup dan perilaku konsumsi.

• The African American Consumer

African American consumer merupakan kelompok minoritas terbesar kedua di Amerika. Konsumen tipe ini menyukai produk-produk terkenal, setia terhadap merek yang digunakan tetapi tidak suka membeli produk-produk berlabel pribadi maupun umum.
Contoh:
African American consumer memilih untuk membeli produk yang mengisyaratkan kesuksesan mereka walaupun tidak terkenal dan tidak melabel sehingga bersifat diskriminatif.
Untuk menarik konsumen ini, sebaiknya menggunakan media masa yang dapat berkomunikasi efektif dan ditujukan khusus kepada ras Afrika Amerika. Biasanya mereka akan lebih tertarik dengan iklan yang bermodelkan orang kulit hitam. Selain itu, juga dapat dilakukan pendekatan secara khusus melalui nilai-nilai dan kebiasaan yang merupakan ciri khas dari konsumen tipe ini.




• Asian American Consumer

Dewasa ini, populasi etnis Asia Amerika menjadi pertumbuhan populasi minoritas tercepat dan paling beragam di Amerika yang dipengaruhi oleh 15 kebudayaan dan bahasa yang berbeda. Etnis Asia Amerika sebagian besar berorientasi pada keluarga, sangat rajin bekerja, dan memiliki dorongan mencapai gaya hidup kelas menengah sehingga memiliki ketertarikan sendiri bagi pemasar. Etnis Asia Amerika sebagian besar terpusat pada kota-kota besar di Amerika yang sekaligus mematahkan stereotip bahwa mereka hanya tinggal di Chinatown.
Sebagian besar etnis Asia Amerika memiliki bisnis sendiri. Kalaupun tidak memiliki bisnis sendiri, kebanyakan berprofesi di bidang teknis, managerial, dan professional. Banyak generasi muda etnis ini menjalani sebagian besar kehidupan mereka dengan berbagai sumber pendapatan, cenderung lebih pandai menggunakan komputer daripada populasi mayoritas, senang berbahasa inggris untuk mendapatkan berita dan informasi secara online, serta lebih sering mengakses internet. Etnis Asia Amerika memiliki persentase lebih besar membeli secara online dibandingkan segmen lain di Amerika.
Sebagai konsumen, etnis Asia Amerika sangat mementingkan kualitas (terkait kualitas kelas atas dengan merek terkenal), menjadi pelanggan yang setia dan tidak jarang berorientasi pada laki-laki. Namun, tidak kalah penting untuk dikaji kembali bahwa etnis Asia Amerika berasal dari latar belakang budaya yang beragam. Walaupun memiliki kesamaan, pemasar harus menghindari penerapan karena perilaku konsumsi yang tidak homogen.
Contoh:
Vietnam Amerika cenderung menghindari kredit karena berhutang dipandang sebagai hal negatif. Pasangan Chinnese Amerika saling memberi pendapat dalam membuat keputusan pembelian.
Sama halnya, penggunaan model yang beretnis Asia pada iklan lebih efektif dalam menjangkau segmen pasar ini. Penelitian menunjukkan bahwa tanggapan terhadap sebuah iklan untuk stereospeaker yang menampilkan model Asia memiliki respon yang lebih positif dibandingkan iklan yang sama dengan menggunakan model Caucasian.



5. Age Subcultures

Pada saat memperhatikan lingkungan sekitar, sering dijumpai perbedaan-perbedaan dalam pilihan pakaian, musik, jam, dan sebagainya dari berbegai rentang umur. Hal-hal ini patut menjadi pertimbangan pemasar dalam memasarkan produk atau jasa. Secara garis besar, terdapat 4 kelompok subcultures berdasarkan umur yaitu:

• The Generation Y Market

Generasi Y merupakan kelompok konsumen yang lahir antara tahun 1977 hingga 1994 sebagai anak dari konsumen generasi baby boomers. Generasi ini terbagi dalam tiga subsegment yakni: Gen Y adults (usia 19-28), Gen Y teen (usia 13-18), dan Gen Y kids/tweens (usia 8-12).
Remaja pada generasi ini, cenderung mencari tahu sendiri tentang produk baru yang ada di pasaran melalui internet dan lebih aware dengan produk baru yang ada di lingkungan sekitar mereka. Untuk kelompok tweens cenderung lebih sering mengunjungi mall dan menghabiskan sekitar $46,80 setiap kali kunjungan. Sedangkan untuk orang tua mereka biasanya menghabiskan sekitar $126 miliar untuk membeli keperluan rumah tangga dan makanan. Tweens seringkali mempengaruhi pilihan merek orangtua mereka hingga dapat mencapai 80%.
Kelompok Gen Y adults merupakan kelompok pemakai telepon selular terbesar dalam hal mengirim pesan teks. Pada pasar telepon selular sekarang ini, 76% konsumen berusia 15-19 tahun menggunakan telepon selular dan 90% konsumen pada usia awal 20an menggunakan telepon selular untuk mengirim pesan, mendengarkan lagu, dan bermain games.
Disamping itu, terdapat kelompok yang disebut sebagi twixters yang berusia antara 21-29 tahun dan masih hidup dengan orangtua mereka. Kebanyakan dari mereka sudah lulus kuliah dan bekerja tetapi mereka memang belum mau meninggalkan rumah orang tua mereka ataupun menikah sebelum usia 30 tahun. Individu yang termasuk dalam kelompok ini belum mampu membeli produk yang bisa dijadikan aset sehingga cenderung membeli barang berupa gadgets dan pakaian.



• The Generation X Market

Generasi X merupakan kelompok konsumen yang lahir antara tahun 1965 hingga 1979. Tipe generasi ini adalah individu yang menikmati hidup, tidak terburu-buru untuk menikah, berkeluarga, tidak menyukai bekerja keras untuk mendapatkan gaji tinggi, memiliki prinsip kerja untuk hidup, tetapi mementingkan kualitas dari kerja itu sendiri dan hubungan yang terjalin. Tentu saja karakteristik ini bertentangan dengan karakteristik dari orangtua mereka yang termasuk dalam generasi baby boomer.
Kunci pendekatan pemasaran yang sesuai untuk generasi ini adalah menawarkan produk atau jasa dengan tulus dan memberikan kenyamanan.
Contoh:
Banyak hotel yang tidak hanya menawarkan kenyamanan berteduh saja, tetapi menawarkan fasilitas internet, LCD TV di dalam kamar, bangku kamar yang ergonomis, dan letak yang strategis.
Contoh lainnya yaitu:
Generasi selalu tidak puas apabila ke mall hanya untuk berbelanja karena mereka beranggapan bahwa belanja saja tidak cukup memuaskan sehingga mereka melakukan sesuatu yang lebih daripada sekedar belanja misalnya ke salon, main ice skating, dan nonton di bioskop sehingga fasilitas-fasilitas ini akan sering ditemu di mall sekarang.







• The Baby Boomer Market

Konsumen yang tergolong dalam baby boomers lahir antara tahun 1946-1964. Baby boomers menjadi salah satu segmen pasar yang menarik karena:
 Merupakan kategori usia yang istimewa dan tertua yang hidup sampai sekarang.
 Seringkali membuat keputusan pembelian yang penting.
 Dapat mempengaruhi konsumen dari segmen lain.
Dalam periklanan, baby boomers lebih tertarik dengan penggambaran yang sesuai dengan diri mereka yaitu hidup dan menarik. Mereka memiliki uang dan akan menghabiskannya untuk hal-hal yang dirasa dapat meningkatkan kualitas hidup. Baby boomers dapat dikatakan tipe pengkonsumsi besar karena menikmati pembelian untuk diri sendiri, untuk rumah, apartemen, dan lainnya. Karena faktor umur dari baby boomers, perlu diperhatikan produk-produk atau jasa yang memberikan kenyamanan seperti pakaian maupun keuntungan yang didapat dari bank karena memasuki tahap pensiun.


• Older Consumer

Konsumen yang termasuk ke dalam tipe older consumer rata-rata adalah individu berusia 60 tahun ke atas. Banyak asumsi yang menyatakan bahwa older consumer adalah individu-individu yang tidak memiliki kemampuan finansial, tingkat kesehatan yang rendah, dan memiliki banyak waktu senggang yang kenyataannya adalah banyak diantaranya masih produktif dan bekerja. Oleh karena itu, segmen ini menjadi ketertarikan tersendiri bagi pemasar.
Penelitian menunjukkan, older consumer cenderung melihat diri sendiri lebih muda ketimbang usia sebenarnya yang dapat dilihat dari 4 dimensi yaitu:
 Feel age : individu merasa seberapa tua.
 Look age : seberapa tua dilihat dari tampilan fisik.
 Do age : seberapa dalam keterlibatan dalam aktivitas kelompok.
 Interest age : seberapa mirip minat individu dengan anggota dalam kelompok.
Hal ini membantu pemasar untuk melihat pendekata-pendekatan baru terhadap older consumer yang tidak hanya terbatas pada usia yang sebenarnya tetapi terhadap persepsi konsumen karena older consumer dewasa ini lebih dapat menerima informasi pemasaran, lebih memiliki kemampuan secara finansial, lebih inovatif, merasa muda, pemikiran yang muda, melakukan kegiatan-kegiatan seperti individu yang lebih muda, lebih terbuka terhadap pengalaman dan tantangan, percaya diri, tidak mementingkan kesalahan dalam membuat keputusan pembelian, dan tampil muda dibandingkan dengan older consumer yang masih bersifat traditional. Di samping itu, dikenal istilah cyberseniors karena pada older consumer juga tidak terlepas dari penggunaan teknologi dan internet yang memudahkan untuk memperoleh informasi sehingga mengurangi mobilitas di luar rumah.
Nah! Strategi pemasar dalam menarik older consumer adalah memberikan penawaran produk dan jasa yang tepat, berkualitas, dan tahan lama dengan melalui iklan yang tepat. Apabila menggunakan model iklan yang terlalu tua akan menunjukkan kelemahan sedangkan yang terlalu muda mengesankan kurangnya pemahaman dan empati terhadap older consumer. Selain itu, older consumer lebih setia terhadap supermarket yang memberikan perhatian dan tertarik dengan produk yang menwarkan kesehatan.


6. Sex as a Subcultures

Masyarakat cenderung memiliki persepsi terhadap sifat-sifat dan peran antara laki-laki dan perempuan. Sifat agresif dan kompetitif sering kali dikatakan sebagai masculin traits, sedangkan rapi, kelemah-lembutan, dan bawel dikatakan sebagai feminine traits. Selain itu, perempuan juga dipandang lebih mengerti masalah rumah tangga ketimbang laki-laki. Dengan mengetahui gambaran mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat, dapat membantu para pemasar dalam menjual produk.
Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa laki-laki dan perempuan menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap iklan cetak yang sama. Perempuan menunjukkan keinginan membeli yang lebih tinggi terhadap iklan yang bersifat verbal, enak dipandang mata, kompleks, dan berorientasi pada kategori. Sebaliknya, laki-laki menunjukkan keinginan membeli yang lebih tinggi terhadap iklan yang membandingkan, sederhana, dan berorientasi pada atribut. Oleh karena itu, sepantasnya para pemasar membuat pendekatan iklan yang berbeda untuk kedua konsumen ini.
Dalam setiap masyarakat, banyak produk yang berhubungan dengan salah satu dari anggota konsumen tipe ini. Rokok, peralatan bangunan diasosiasikan dengan laki-laki sedangkan kalung, alat kosmetik, perawatan muka sering diasosiasikan untuk perempuan. Daya tarik yang lain juga tampak dalam iklan yang berhubungan dengan anggota tubuh dari konsumen.
Contoh:
Iklan susu L-men, membuat konsep pria dengan tubuh bidang dan berotot, yang di idam-idamkan sebagian besar pria.
Dalam penggunaan internet pun, terlihat berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Perempuan menggunakan internet untuk mencari bahan referensi memasak, informasi medis, bermain games yang bersifat mengasuh dan untuk chat, sedangkan laki-laki cenderung berfokus pada eksplorasi, penemuan, mengidentifikasi software serta film-film gratis. Hal ini memberikan bukti untuk gagasan bahwa laki-laki adalah hunters, sedangkan perempuan adalah nurturers.
Dewasa ini, wanita tidak lagi hanya berada di dalam rumah tetapi sebagian besar memiliki pekerjaan mandiri. Wanita yang bekerja lebih sedikit menghabiskan waktu belanja dari wanita yangtidak bekerja. Hal ini membuat para pemasar sangat tertarik dengan pekerja wanita. Yang penting harus diperhatikan adalah kebanyakan wanita pekerja berbelanja pada malam hari ataupun di hari libur dan memiliki kemungkinan lebih besar berbelanja melalui katalog.


C. INTERAKSI SUBCULTURES

Setiap konsumen pasti memiliki lebih dari satu subcultures sehingga pemasar sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu subcultures dalam memasang strategi promosi tetapi harus memahami kekayaan subcultures dan mengkombinasikannya.

Sumber:
Schiffman, L. G. & Kanuk, L. L. (2007). Consumer Behavior (9th ed). New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Jumat, 17 September 2010

Kemana ?


Setiap manusia punya jalan yang berbeda dalam menjalani hidupnya, itu yang diketahui orang-orang sejak lama. Ada banyak manusia di dunia ini. Dalam kisaran angka yang mencapai milyaran, pasti ada sepasang yang memiliki jalan hidup yang hampir sama.. mungkin cara berjalannya beda, tapi tujuanya sama atau mungkin tujuannya yang beda tapi cara berjalannya sama persis.
Entah dengan saya? saya ini sepertinya tidak tau caranya berjalan dan tidak tau tujuan apa yang ingin saya raih. Sampai saat ini.


Mungkin saya masih tidur, dan suatu saat ada yang membangunkan saya.. dan ngajakin jalan bareng kesuatu tempat yang baik (atau buruk?). Terserah. Saya Cuma ingin ada yang menemani. Itu saja. 

Jumat, 30 Juli 2010

now.








tidak. akan. sama. lagi.

Minggu, 25 Juli 2010

Idiotic

Apa yang ingin kamu cari dari saya?

Sebuah kesalahan untuk kemudian kamu jadikan itu sebagai senjata kamu, agar kamu dapat melupakan saya, agar kamu merasa telah membuat keputusan yang benar bahwa meninggalkan saya adalah keputusan yang paling tepat?


Biar saya jelaskan tentang diri saya. Saya adalah pembuat kesalahan ulung.
Kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya. Kamu membuat saya seperti makhluk idiot.
The idiotic system of emotional called love. Saya begitu membutuhkan kamu, tapi kamu tidak membutuhkan saya. Saya begitu mengharapkan kehadiran kamu, tapi kamu sama sekali mengacuhkan keberadaan saya. Setiap gelisah saya adalah kamu, setiap gelisah kamu adalah kamu. Saya benar-benar idiot. Mimpi terbesar saya adalah untuk sadar. Sadar bahwa kamu bukan untuk saya. Terimakasih telah mempesonaku.

Dan Joni pun Bingung

Sejatinya respon seseorang terhadap rasa takut adalah pergi menjauh berusaha menghindari sebisa mungkin penyebab rasa takutnya.
Lain soal hal yang kita takuti itu orang yang kita sayang. Loh? Kok bisa gitu? Sayang kok takut? Sayang beneran atau sayang boongan nih?. Entah?.


Gini kawan, saya jelaskan..
Ada seorang temen yang curhat sama gue tentang masalah percintaannya. Yaahh sebagai teman yang baik gue nanggepin dong apa yang jadi masalah dia sekarang. Karena dia temen gue, maka masalah dia ya masalah gue juga. Dan dalam hal ini gue mendengarkan ceritanya dia.
Dia punya mantan, (temen gue cowo) ceritanya mereka udah putus sekitar sebulanan lah, temen gue ini nyesel udah mutusin cewenya. Dia cerita ke gue sambil nangis-nangis wakakakak. Sorry mamen lau lucu bener. Haha. Gitu doang nangis. OOT :p. intinya temen gue ini sebutlah si Joni, yang punya Mantan Namanya Erna Antasari singkat EA- lah ya. *ditabok* . Joni yang masih sayang sama mantannya ini ngajakin si EA balikan. Sampe ga tidur dua hari malah gara-gara nunggu jawaban dari si EA ini. jadi dia minta balikan hari jumat, sedangkan jawaban baru dikasih sama mantannya hari Minggu. Hahaha nyesek sob. Makan tuh kopi sama rokok. Tibalah Joni dihari minggu, dia datengin rumah mantannya, basa-basi-basa-basi Blakkkkk ! Joni nge-shoot dengan pertanyaan yang dilematis..


Joni : neng, gimana jawabannya udh kamu pikirin belom

EA : hmm.. jadi gini Jon, aku bingung sama kamu, kemaren kan kamu yang mutusin aku.. trus sekarang kamu minta balikan, kamu yakin? Secepat itu? Kamu tau kan kita putus karena apa? Masalah yang ga mudah Jon.. masalah prinsip.. kalo aku terima kamu sekarang aku ga yakin kamu bisa berubah secepat itu.. aku TAKUT jon.. aku takut kalo kamu masih kamu yang dulu.. yang egois, yang gamau dengerin apa kata aku, yang selalu mau berdiri diatas pikiran dan pendapat yang kamu anggep bener sendiri tanpa peduliin sikap dan pendapat aku, tanpa peduliin perasaan aku gimana. Kamu tau Jon? Itu nyakitin buat aku. Sakitt banget jon jadi orang yang selalu ngalah. Selalu nyoba buat sabar atas sikap-sikap kamu. Aku capek Jon.
Joni : a..aku..

EA : Maaf Jon, aku gabisa balikan sama kamu. Aku masih TAKUT.

Joni : Aku minta maaf neng, aku tau aku terlalu egois.. gamau denger omongan kamu, gamau ngerti maunya kamu, selalu tutup mata sama sikap kamu, terlalu kebal untuk meraba-rasakan perasaan kamu, ga peduli.. Aku minta maaf udah nyakitin hati kamu. Aku bener-bener minta maaf. Aku mohon kamu jangan benci sama aku.. jangan buang aku, aku butuh kamu neng.

EA : Ga,Jon, aku ga benci sama kamu.. aku sayang sama kamu, tapi untuk saat ini aku masih takut buat mulai lagi. Aku lagi mau sendiri Jon, aku bener-bener mau sendiri.

Joni : Sampe kapan aku harus nunggu neng?

EA : yaa aku gatau Jon, aku gatau kapan perasaan sakit ini bisa lenyap.. mungkin seminggu,sebulan,dua bulan, setahun mungkin..

Joni : neng, kamu jangan kaya gitu.. itu sama aja kamu kasih harapan kosong sama perasaan aku, hati aku mau diapain neng? Nunggu jawaban kamu ini aja aku sampe ga tidur-tidur neng. Aku terus mikirin hal ini..

EA : kamu gapapa kok kalo mau punya pacar lain.. aku tau kamu, kamu gabisa hidup tanpa cewe kan? Tapi yang jelas kamu gausah khawatir aku ga akan punya pacar dalam waktu dekat ini.. aku masih mau memperbaiki hati aku, aku belom siap buat punya pacar lagi Jon.

Joni : maaf, kalo aku agak maksa aku Cuma mau tanggung jawab sama perasaan aku, Cuma mau Jujur sama kamu kalo yang aku butuh Cuma kamu.

EA : maaf Jon, aku bener-bener gabisa.



Sadaaaappp.. begitulah kisah temen gue.. kasian ya  jadi mau nangis gue. hiks.
Kawan-kawanku yang gue hormati, gue rasa si Joni Cuma dateng pas ada maunya doang, dia nganggep remeh pacarnya.. kalo tau dia bakalan sebegitunya kenapa dulu dia putusin pacarnya? Kan goblok kan? Emang sih kalo kasus-kasus putus yang sering gue jumpai adalah karena mereka emosi di satu titik, dia muntahkan itu semua saat itu.. yang ada disebelahnya itu ya pacarnya.. kena lah pacarnya.. hhhh..
Jangan gitu jadi cowo.. ga baik.

Sedangkan masalah si Erna ini lebih rumit lagi kayaknya. Dia mikir kemana sih? Bilang masih sayang, tapi gamau balikan, bilang masih sayang tapi nyuruh orang yg disayang pacaran lagi sama yang lain. Bilang takut sama si Joni, tapi sekarang mereka malah kayak gada apa-apa gitu.. gue perhatiin dari jauh, ya mereka tetep sapa-sapaan di twitter, di FB, smsan, minta anter-jemput. Hell-O ? Erna sayang kalo kamu takut sama Joni kenapa kamu masih deket-deket dia? Masih suka hubungin dia? Masih suka bilang kangen? Masih suka nelfon duluan? Kalo aku jadi kamu aku akan jauhin Joni loh.. sayang aku bukan kamu jadi aku gaperlu TAKUT. Hehe.. ngerti kenapa? Karena aku mungkin..mungkinnn bgt aku bakalan jadi sayang lagi sama mantanku.. karena kedekatan itu. Okelah kamu anggep itu pertemanan biasa dan ga mengharapkan apa-apa.. tapi kamu mikirin ga gimana Joninya ke kamu? Mungkin sekarang Joni udah mati terbunuh sama perasaan harapnya ke kamu. Ayo dong Erna.. kamu tau gimana harus bersikap, kalo kamu sayang ya kamu bilang ke dia kalo kamu bersedia jadi teman hidupnya kaya dulu lagi. Tapi kalo kamu Takut, ya tolong sekalian menjauh dari dia, demi kebaikan kamu.. kalau kamu tetap dekat dengan hal yang kamu takuti seumur hidup kamu ga akan tenang.. ga akan nyaman.

Buka mata kamu, buka hati kamu.. siapa yang mendominasi di dalam hati kamu saat ini? rasa takut ? atau rasa sayang?
Sampai detik ini Joni,masih mengharapkan kamu.. karena buat dia Cuma kamu yang bisa membuat hidupnya ada dan berharga.

Sebagai teman kalian aku berdoa yang terbaik saja. Terimakasih, maaf kalau ada salah-salah kata. Maaf buat Joni yang cerita pribadinya udh gue ekspos di Blog ini. sorry bgt men..sorry..

Selasa, 13 Juli 2010

Lakon

Rekam adegan
Aksi berjalan
Kontinuitas
Lambat lambat
Cepat tepat
Bukan dikamar
Aku terdampar
Ditampar-tampar
Tapi tak sadar
Diinjak-injak
Tidak melawan
Ingin bergerak
Ini berperan
Jangan melawan ini adegan
Matipun dilakukan
Lambat lambat
Cepat dapat
Kejar - mengejar, berlari - lari
Ini aku berhenti
Pita habis.

Minggu, 04 Juli 2010

Dibutuhkan Itu Nikmat :)

Di Bulan September, saya pindah kerja di sebuah perusahaan. Meja kerjanya disekat semua, jadi tidak bisa kelihatan satu sama lainnya. Tapi jika orang di sebelah sedang bicara di telepon akan terdengar sangat jelas.

Rekan sejawat yang duduk di sebelah kiri saya kelihatannya adalah seorang pria yang sangat ‘lengket’ dengan istrinya.

“Istriku, malam ini saya ingin makan daging kecap”, katanya suatu hari.
“Istriku, kemejaku yang warna abu – abu dengan motif kotak – kotak apa sudah disetrika? Besok baju itu akan aku pakai”, katanya lagi di lain kesempatan.
“Istriku, saya lagi pingin makan kue bawang buatanmu”, katanya di kesempatan yg lain lagi.

Suara yang sengaja direndahkan, tanpa diduga justru menjadi sangat lembah lembut. Diam-diam saya tertawa dalam hati, pria tersebut sedang bermanja-manja dengan istrinya. Jika seorang pria berkelakuan seperti seorang anak kecil yang minta dimanjakan, wanita dipastikan akan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

Tak dapat dihindari, secara diam-diam saya mulai memperhatikannya. Dia adalah seorang pria paruh baya yang sangat biasa. Walaupun dalam karirnya tidak ada sesuatu prestasi yang menonjol, namun kehidupan dalam keluarganya bisa dipastikan dikelolanya dengan sangat sukses. Istrinya pastilah seorang wanita yang bertipe keibuan.

Dia sangat rajin menelepon istrinya, pembicaraannya selalu sambung menyambung dan tak pernah terputus, dan pada akhir kalimat ia selalu mengajukan permintaan, yang meminta istrinya untuk mengerjakan ini dan itu. Sungguh-sungguh seperti seorang pria yang sangat dimanjakan. Pada saat jam kerja, tiba-tiba terpikirkan olehnya untuk segera mengangkat telepon dan menelepon istrinya. Jika dilihat dari mimik wajahnya selagi menelepon, bisa dilihat bahwa selama ini istrinya tidak pernah menolak terhadap apa pun permintaannya yang sangat rinci, sebaliknya justru dilakukannya dengan senang hati.

Setelah akrab, saya menertawainya, “Bapak sungguh keren, telah mempersunting seorang istri yang berbudi luhur.” Dia ikut tertawa, “Benar, benar…” Suatu hari minggu, saya ke rumah sakit untuk mengambil obat karena saya sakit tenggorokan. Di luar dugaan saya telah bertemu dengan pria itu dan istrinya. Ternyata istrinya bukanlah tipe seorang wanita cerdik dan cekatan seperti yang selama ini saya bayangkan. Sebaliknya dia adalah seorang yang kurus lemah, lesu bagai pesakitan. Setelah menyapa dengan sopan, ia memapah istrinya dengan sangat hati-hati lalu berjalan pergi. Dokter yang melayani saya mengenal mereka, dokter tersebut pun berkata, “Istrinya telah mengi-dap kanker selama dua tahun, waktu mereka mendapati kenyataan ini kanker tersebut sudah sampai pada tahap akhir, sisa waktu hidupnya hanya tinggal 1/2 tahun saja. Untung tekadnya untuk bertahan hidup sangat kuat. Di luar dugaan istrinya berhasil bertahan melewati dua tahun, tapi tubuhnya kian hari kian parah, tidak tahu ia masih dapat bertahan berapa lama lagi.” Dokter menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepa-la, hati saya terbenam.

Sejak saat itu, jika mendengar beliau menelepon, di dalam hati saya ada semacam amarah yang sulit untuk dibendung. Pria ini sungguh keterlaluan, istrinya sudah sakit sedemikian parah, dia masih setiap hari memerintah istrinya untuk bekerja, apakah hati pria ini sedemikian kasarnya, atau memang keras seperti batu?

Dengan pena merah ia membuat bulatan pada suatu tanggal di kalender. Beliau berkata, “Ulang tahun istri saya yang ke 35 akan segera tiba.” Dia meminta saya untuk memberi ide, apa sebaiknya yang akan diberikan pada istrinya sebagai hadiah ulang tahun.

Bunga mawar, kue ulang tahun, uhh… Terlalu kuno, tidak ada ide yang baru. Cincin berlian, jangan… Tidak cukup uang untuk membelinya, ia mempertimbangkan dengan serius. Saya akhirnya tidak dapat menahan diri lagi, sebuah ucapan menerjang keluar dari mulut, “Anda ini, apa pun tidak perlu diberikan, mulai saat ini jangan lagi menyuruh-nyuruh istri anda, biarkan saja istri anda melewati hari-harinya dengan santai, itu sudah cukup.”

Beliau menolak sambil tertawa, “Mana bisa begitu. Dia adalah istri saya, kalau saya tidak menyuruhnya, lalu saya harus menyuruh siapa lagi?”

“Istri anda akan segera tiba ajalnya, dan anda masih menyuruhnya mengerjakan ini dan itu, anda ini lelaki atau bukan? Masih adakah kasih sayang anda terhadap istri anda?” Di dalam ekspresi mata saya yang penuh dengan hinaan, lelaki yang ada di depan saya ini sungguh berwajah sangat menyebalkan.

Senyuman yang terdapat di wajahnya sirna perlahan-lahan, lalu ia berkata dengan perlahan, “Apakah anda merasa bahwa hanya dengan berkorban demi seseorang barulah dapat dikatakan cinta? Sebenarnya menuntut seseorang melakukan sesuatu juga merupakan suatu wujud cinta. Tak lama setelah saya tahu istri saya sakit, yang saya pikirkan adalah waktunya di dunia ini sudah tidak lama lagi, biar bagaimana pun juga saya tidak mau ia bekerja keras demi aku. Saya melarangnya melakukan pekerjaan rumah apa pun, saya hanya berpikir agar ia dapat makan yang enak, pergi pesiar ke tempat-tempat yang diinginkannya, dan bisa beristirahat dengan baik. Akan tetapi keadaan tubuhnya kian hari kian buruk. Istri saya berkata pada saya, bahwa ia merasakan bahwa hidup seperti seseorang yang tidak berguna sama sekali tidak ada artinya baginya untuk terus hidup, akan lebih baik untuk pergi lebih cepat. Saya katakan bahwa saya tidak akan membiarkannya pergi, saya masih belum puas menikmati daging kecap buatannya. Sejak saat itu saya menuntutnya seperti biasa, memintanya untuk mengerjakan ini dan itu bagi diri saya, air mukanya perlahan-lahan kelihatan menjadi lebih segar. Sejak saat itulah saya baru memahami, mencintai seseorang, bukan hanya memberikan (berkorban), tapi juga harus saling membutuhkan.”

“Maka dari itu saya mengatakan pada istri saya, saya minta dia untuk menyetrika kemeja saya, saya ingin minum sup buatannya. Tahukah anda apa kata istri saya? Di saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia pun tetap akan memasak beberapa macam masakan kesukaan saya untuk disimpan di dalam lemari es. Merasa dibutuhkan oleh seseorang adalah merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Saya hanya memikirkan bagaimana saya dapat memuaskan kebahagiaan yang didambakan istri saya itu. Mengertikah anda? Karena mencintai, maka akan selalu saling menuntut. Jika mencintai seseorang, berilah kesempatan kepadanya agar bisa mencintai anda.”

Suaranya agak terisak. Dan saya, sampai saat itu, baru mengerti cara untuk menyatakan cinta dari sisi yang berbeda. Akhirnya saya memahami, jika benar – benar mencintai seseorang, maka seharusnya anda dapat membuatnya merasa bahwa dirinya sangat dibutuhkan oleh anda, beri dia kesempatan untuk mencintai anda. (anonim/The Epoch Times/lin)